Rabu, 28 Desember 2016

Toko Buku Online


PEMESANAN: 

WA: +201113695913









Sultania Books: Jendela Intelektual dan Spiritual



Kami menjual buku-buku secara online, menerima pelatihan menulis, dan konsultasi naskah buku untuk diterbitkan di penerbit mayor. 


Slogan/Motto 

Sultania Books: Jendela Intelektual dan Spiritual

Kutipan Favorit dan Inspirasi Kami: 



-Dan carilah (pahala) negeri akhirat dengan apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu, tetapi janganlah kamu lupakan bagianmu di dunia dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di bumi. Sungguh, Allah tidak menyukai orang yang berbuat kerusakan." (QS Al-Qasas [28]: 77)



-Produktif, kreatif, dan inovatif harus diusahakan untuk meraih kemuliaan di sisi Tuhan.

Silakan, kunjungi toko online kami 

Sultania Booksplus

Senin, 05 Desember 2016

Ketika Charles Darwin Kebingungan


Seiring berkembangnya ilmu pengetahuan, teori Darwin justru bergerak menuju ambang kehancuran. Teori yang menyatakan bahwa nenek moyang manusia adalah kera tersebut mendapat kritikan, karena mengandung banyak kelemahan. Misalnya saja tentang catatan fosil dan keteraturan alam.

Dalam Origin of Species, Darwin menjelaskan,

"Jika teori saya benar (bahwa suatu spesies berasal dari spesies lain), pasti pernah terdapat jenis-jenis bentuk peralihan yang tak terhitung jumlahnya, yang mengaitkan semua spesies dari kelompok yang sama. Sudah tentu bukti keberadaan mereka di masa lampau dapat ditemukan pada peninggalan fosil-fosil."

Ternyata teori tersebut tidaklah benar. Menariknya, ketidakbenaran teori itu dinyatakan oleh Darwin sendiri, sehingga ia mengaku jadi terbingung-bingung,

Sekadar Pamer Simbol-Simbol Islami

Sebagian kita mungkin merasa heran, kenapa banyak orang lebih mementingkan kualitas zahir daripada batin? Kenapa mereka berjibaku mengejar sisi materi dan mengabaikan sisi ruhani? Bahkan, diri kita terkadang demikian juga. Tanpa sadar kita sudah larut bersama kaum materialistis. Kita lebih mementingkan penampilan luar, dengan cara menunjukkan simbol-simbl islami dan memamerkan penggunaan produk yang zahirnya syar'i, padahal dalam waktu yang sama, hati kita kosong dari petunjuk rabani.

Sebagian kita dengan bangganya memperlihatkan kebaikan-kebaikan di depan sesama, padahal dalam kerahasiaan, kita sibuk menghimpun dosa-dosa.

Kembali ke pertanyaan tadi, kenapa kebanyakan orang lebih mementingkan kualitas zahir daripada batin? Sebagian alasannya, sebagaimana berikut.

Siapa Bilang Dubai Maju?!

Jika melihat bangunan dan tata kota di Dubai (meskipun hanya lewat internet), mungkin kita akan berdecak kagum dan bilang WOW. Kota di negara Uni Emirat Arab memang terlihat modern, bahkan lebih modern daripada sebagian negara-negara Barat. Hampir semua fasilitas masakini ada di sana. Gedung-gedung pencakar langit menjulang tinggi, mengangkasa. Tempat-tempat untuk memanjakan tubuh tersedia.

Apakah Dubai bisa dikatakan negara maju? Sebagian mengatakan, "Iya". Sebagian lainnya mengatakan dengan lantang, "TIDAK". Dr. Ashim Dasuqi, dosen di Universitas Helwan, seorang sejarawan Mesir yang spesialisasi dalam bidang sejarah modern, juga ahli dalam bidang ekonomi dan ilmu-ilmu sosial adalah salah seorang pakar yang mengatakan bahwa Dubai bukanlah kota maju. Demikian juga dengan daerah-daerah sejenis lainnya di Teluk Arab.

Dubai bukanlah daerah produsen, tetapi konsumen. Fasilitas-fasilitas modern dan canggih didatangkan dari Barat. Tenaga ahli, arsitek, dan insinyur, diimpor dari Barat. Dubai bisa menyediakan semua itu karena punya dana, kaya dari hasil minyak. Sedangkan menurut beliau (Dr. Ashim Dasuqi), standar sebuah daerah bisa dikatakan maju, jika daerah tersebut aktif berproduksi, bukan sekadar mengonsumsi.

Di Antara Efek Positif Menulis

Di antara efek positif yang saya rasakan selama menjadi penulis, sebagaimana berikut:

1. Lebih banyak membeli dan membaca kitab/buku; lebih banyak belajar.
2. Lebih banyak bertanya, menengok ragam komentar ulama/ilmuwan/pakar terhadap suatu permasalahan.
3. Lebih banyak merenung dan bermuhasabah (terutama saat proses menulis).
4. Dapat rezeki yang tidak terduga.
5. Lebih banyak relasi, baik dengan editor, sesama penulis, maupun pembaca se-Indonesia.
6. Lebih sering "menengok" perkembangan buku-buku yang beredar di Indonesia. Akhirnya tahu, tema atau hal apa saja yang dibutuhkan masyarakat Indonesia.
7. Ilmu yang pernah saya dapatkan terasa lebih awet dan bahkan bisa dikoreksi lagi (karena didokumentasikan/dibukukan, sekaligus ditambah dengan data-data baru lainnya).
8. Semakin runtut dan tertib dalam berpikir, karena terbiasa menyusun data/referensi acak menjadi bab yang runut serta saling berhubungan dalam satu buku.
9. Lebih peka terhadap lingkungan, karena berusaha mengambil hikmah dari setiap kejadian (untuk kemudian dituliskan dan ditambah dengan data-data lainnya).
10. Merasa lega bisa berbagi kepada sesama semampunya, meskipun hanya lewat tulisan sederhana.
11. Dan lain-lain.

Semoga ini menjadi motivasi bagi kita semua dan mudah-mudahan Dia menganugerahkan keikhlasan kepada kita dalam berkarya.

Mau Menerbitkan Buku?


Saya senang, cukup banyak teman-teman yang bertanya via inbox Facebook, bagaimana cara menerbitkan buku di penerbit A, B, C, dan seterusnya.

Hanya saja perlu saya ingatkan (khususnya bagi pemula), persaingan menerbitkan buku di penerbit mayor semakin ketat. Apalagi jika penerbit sudah punya list pengarang yang mumpuni, yang selalu bisa diajak kerja sama menulis buku. Penerbit tinggal pesan naskah kepada mereka, "Mas, tolong tulis naskah religi dengan tema A, ya....", "Mbak, penerbit lagi butuh naskah remaja dengan tema B. Bisa nggak kamu menulisnya?", dll.

Memang sih, ada sebagian penerbit yang cenderung "memudahkan" dalam proses seleksi. Namun, itu juga bukan jaminan buku kita pasti lolos.

Intinya, persiapkan naskah sebaik-baiknya. Tulislah naskah dengan format yang rapi. Perhatikan EYD. Gunakan bahasa yang mudah dipahami. Lengkapi naskah yang akan dikirim dengan sinopsis, daftar isi, profil penulis, daftar referensi, dll.

Meskipun temanya tetap tema yang masih naik daun, buatlah naskah yang "anti mainstream" dari sisi penyajian. Buat inovasi baru. Jangan lupa, sesuaikan konten naskah kita dengan visi-misi penerbit yang dituju. Jika mengirimkan naskah via email, jangan lupa juga buat surat pengantar/permohonan penerbitan di badan email.

Ada hal-hal lain yang sebenarnya perlu diperhatikan saat ingin mengirimkan naskah ke sebuah penerbit , tetapi ketentuan-ketentuan tadi sudah cukup mewakili.

Demikian, semoga berhasil, ya :)